Mengulas Psikobisnis

Bukan Sekedar StartUp (#Part1)

September 6, 2018

Bukan Sekedar StartUp (#Part1)

Menjamur bisnis berhaluan start-up dengan merancang platform khusus sepertinya sudah menjadi wabah. Aneka ide berkeliaran guna menciptakan start-up. Namun, hati-hati saat Anda terjebak dalam budaya latah dan instan. Anda akan tenggelam dengan ide brillian itu tetapi tidak pernah melahirkan bisnis monumental dan mengayakan Anda.

Sukma.co – Siapa yang belum mendengar atau menggunakan Go-Jek? Go-Jek merupakan salah satu cerita sukses dari sebuah StartUp milik tanah air. Terselip nama Nadiem Makarim pada kesuksesan Go-Jek yang sekarang menjadi primadona dalam dunia StartUp di Indonesia. Go-Jek pada awalnya hanya sebuah aplikasi sederhana saja. Tapi, aplikasi sederhana ini telah menginspirasi banyak pelaku StartUp dan ia telah menjadi bukti nyata StartUp di Indonesia yang berhasil meraup keuntungan dan memberikan dampak positif bagi masyarakat Indonesia.

Membahas tentang StartUp, sebetulnya ini bukan fenomena baru. Melirik ke belahan bumi lainnya ada Facebook yang memulai boomingnya aplikasi media sosial, atau AirBnB yang dikenal oleh para traveler karena menyediakan layanan sewa kamar atau berbagi tempat menginap sehingga memudahkan traveler untuk mencari dan memesan apartment atau rumah untuk ditinggali saat sedang berlibur atau melakukan perjalanan bisnis di negara asing. Sebelumnya lagi ada Google, aplikasi search engine (mesin pencari informasi) yang berhasil merebut pasat Yahoo! dan Altavista. Kemudian masih banyak cerita sukses dari StartUp lainnya seperti, YouTube, Twitter, Alibaba dan lain-lain.

Sayangnya banyak masyarakat kita yang salah kaprah dengan StartUp. Mereka mengira StartUp haruslah perusahaan yang berbasis teknologi, atau pelaku StartUp harus mereka yang berasal dari bidang bisnis atau Informasi dan Teknologi (TI), dan menjalankan bisnis StartUp harus memiliki gedung perkantoran untuk ditempati karyawannya bekerja. Menurut (Baskoro, 2016), StartUp merupakan individu atau organisasi yang berusaha menghasilkan produk atau pelayanan jasa dan mencari model bisnis yang tepat untuk berkembang. Kebanyakan memang dilakukan oleh perusahaan yang berbasis Teknologi Informasi. Pemanfaatan Informasi dan Teknologi (IT) bertujuan meningkatkan proses pemasaran produk atau jasa, mengingat jumah pengguna IT di Indonesia meningkat pesat.

Ilustrasi foto diunduh dari istockphoto.com

Menurut Eric Ries, penulis buku best seller Lean StartUp (dalam, Ramdhan, 2016, p. 18) StartUp merupakan “a human institution designed to deliver a new product or service under conditions of extreme uncertainty”. Jika kita kaji lebih rinci definisi di atas, definisi StartUp bisa dipahami menjadi 3 bagian.

Pertama, a human institution. Jadi, StartUp adalah institusi manusia, bisa berupa individu atau kelompok atau perusahaan. Bagian kedua, to deliver a new product or service, dimana StartUp dibangun dalam rangka menjual produk atau jasa baru sehingga bisa disimpulkan StartUp dibangun untuk mendapatkan keuntungan. Bagian ketiga, under conditions of extreme uncertainty. Makna definisi ini ialah, StartUp merupakan bisnis baru yang didirikan dan berpotensi menghadapi kondisi ketidakpastian yang sangat tinggi, sehingga prediksi apakah StartUp ini akan sukses atau gagal menjadi tidak mudah.

Berbeda dengan perusahaan kebanyakan yang sudah berdiri dan melewati beragam kondisi yang tidak menguntungkan dan berhasil melewati ketidakpastian itu karena jam terbang. Setiap harinya bisnis StartUp selalu dihadapkan pada ketidakpastian. Oleh karenanya, mereka akan mencoba beragam model dan metode bisnis yang sesuai dengan kondisi pasar hingga akhirnya pasar bisa menerima produk atau jasa yang mereka tawarkan. Maka tak heran dikatakan bahwa, hanya satu dari sepuluh startup yang sukses.

Realitanya membangun StartUp memang tidak semudah yang dibayangkan. Padahal, untuk membangun sebuah StartUp tahapan yang dilakukan ialah sama, yakni (Rahardjo, 2016): 1) Tahap ideation (pencetusan ide), 2) Product Development (pengembangan produk atau layanan), 3) Tahap Getting User and Marketing (memasuki pasar), 4) Rapid Growth (berkembang dengan pesat), 5) Maturity (kematangan), 6) Steady Growth or Decay (terus berkembang atau menurun). Lantas mengapa ada StartUp yang berhasil dan ada StartUp yang gagal?

Kunci kesuksesan dari setiap StartUp tentu berbeda-beda. Eric Ries dalam (Ramdhan, 2016) menyatakan bahwa StartUp harus melakukan crazy experiments hingga menemukan jalan suksesnya masing-masing. Sementara itu, dikutip dari (Purnawan & Iman, 2016) dalam Majalah SWA, menjelaskan bahwa kunci sukses dari sebuah StartUp ialah pertumbuhan. StartUp dirancang untuk berkembang pesat. Kelahiran StartUp berbeda dengan bisnis-bisnis pada umumnya. Masih dalam (Purnawan & Iman, 2016), Paul Graham, pemodal Ventura dari Y Combinator menyatakan bahswa StartUp dan jenis bisnis lainnya mungkin sama-sama memulai dari nol dengan modal dan tim yang terbatas, tapi StartUp memiliki spirit yang amat berbeda dari bisnis pada umumnya. Spirit tersebut meliputi tiga komponen sebagai berikut:

Pertama, menggapai konsumen atau pasar yang amat luas. Sebagai contoh, anda bisa membuat sebuah bisnis fotokopi di sebuah kampus di Malang. Bisnis ini memenuhi prinsip pertama karena dibutuhkan oleh banyak orang. Namun, bila anda membangun bisnis fotokopi ini hanya di salah satu kampus di Malang saja sementara jumlah kampus di Malang lebih dari lima maka anda hanya menjangkau tak lebih dari jumlah keseluruhan mahasiswa di kampus itu saja. Jika anda hendak menjangkau konsumen di kampus lain, maka ada keharusan untuk membuka cabang bisnis fotokopi anda di sana.

Kedua, membuat produk yang diinginkan oleh banyak orang. Membuat aplikasi penerjemah Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris memang di inginkan masyarakat Indonesia yang ingin belajar Bahasa Inggris dan nampaknya bisa menggapai pasar yang luas mengingat jumlah populasi masyarakat Indonesia yang banyak Akan tetapi, lebih baik lagi bila anda membuat aplikasi penerjemah bahasa asing yang terdiri dari beragam pilihan bahasa. Sehingga, pengguna aplikasi ini tidak hanya berasal dari Indonesia saja tapi penduduk negara lain yang ingin belajar beragam bahasa asing juga bisa menggunakannya.

Ketiga, StartUp haruslah membawa ide dan gagasan yang baru. Kebanyakan perusahaan StartUp yang sukses ialah mereka yang berhasil menciptakan sesuatu yang awalnya tidak ada menjadi ada. Anda bisa berkaca dari perusahaan StartUp, Go-Jek. Go-Jek berhasil memenangkan hati masyarakat dengan fitur layanan berupa jasa transportasi via aplikasi mobile yang disediakan. Pengguna bisa menentukan tujuan perjalanan, mengetahui tarif, kemudahan menghubungi rider, ditambah dengan pelayanan yang ramah dan nyaman. Menariknya, semua bisa dilakukan lewat smartphone anda. Go-Jek bahkan menambah fitur menarik lainnya, seperti Go-Food untuk pesan antar makanan, Go-Send untuk mengantarkan paket, Go-Tix untuk layanan membeli tiket bioskop, dan masih banyak jenis layanan lainnya.

Berdasarkan amatan saya, perbedaan antara StartUp yang berhasil dan yang tidak, terletak pada sikap mereka. Alih-alih mementingkan kemampuan dan keuntungan besar lebih dulu, pelaku StartUp yang berhasil cenderung mendahulukan rasa empati dan bergerak perlahan untuk konsisten bertumbuh di pasar yang sudah disasar. Selain itu, para pelaku startup nampaknya harus bersyukur karena internet muncul pada era ini. Dimana hampir semua lapisan masyarakat sudah memiliki smartphone dan memiliki pengetahuan untuk menggunakannya dengan lebih efektif. Data statistik menunjukkan bahwa dari 250 juta lebih penduduk di Indonesia 95,87 juta adalah pengguna smartphone dan 83,6 juta diantaranya adalah pengguna layanan internet (Prasetya, 21/02/2016). Jumlah tersebut diperkirakan dapat terus mengalami peningkatan mengingat kebutuhan masyarakat akan fasilitas layanan smartphone dan internet pada beberapa tahun belakangan ini sangatlah besar. (To be continue… . )

Penulis   :  Wahyu Riska Elsa Pratiwi
Editor     :  Redaksi

Silahkan login di facebook dan berikan komentar Anda!