Cerpen Imajinasi

Dunia Kecil yang Tumbuh di Kepalanya

November 7, 2019

author:

Dunia Kecil yang Tumbuh di Kepalanya

Seorang lelaki yang tidak sengaja saya temui tadi pagi seperti masih sama ketika terakhir kali kami bertemu, kurang lebih sekitar lima tahun yang lalu. Suaranya, cara ia tertawa, juga warna matanya, semua masih sama seperti dahulu. Ia memiliki mata yang sama persis dengan mata ibunya.

Tadi pagi saya melihat keseluruhan dirinya. Seorang lelaki yang menjadi pelukis lepas itu memang sering sakit-sakitan. Batuk kronisnya selalu kambuh. Berkali-kali ia keluar-masuk rumah sakit. Ia pernah berjanji kepada saya untuk tidak merokok. Ia berusaha meyakinkan kepada dirinya sendiri bahwa rokok itu pahit dan tidak enak, dan ia begitu bangga karena telah melampaui beberapa minggu. Tapi entah kenapa ia kemudian merokok lagi.

Namun sesungguhnya, ia tidak begitu risau dengan penyakit batuk kronis yang ia alami. Jauh lebih dari sekadar itu. Orang-orang menyebutnya sebagai autisme, semacam gangguan perkembangan dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungan. Perasaannya mudah sekali terganggu. Ia lebih suka berbicara dan bermain dengan dirinya sendiri, dengan lukisan-lukisannya sendiri. Ia melihat lukisan-lukisan itu serasa lebih hidup daripada manusia-manusia yang banyak sekali berbicara.

Dulu waktu masih kecil, ibunya pernah berkata kepadanya, bahwa ia berbeda dengan anak-anak yang lain. Ia memerlukan perhatian khusus. Katanya, ia punya dunia sendiri yang sangat istimewa. Kelak suatu saat ia pasti mengerti kata-kata ibunya. Ibunya selalu memberi semangat dan meyakinkan bahwa ia pasti bisa melewati semua itu. Adalah penglihatannya, yang membuat ia menjadi istimewa. Sebelum meninggal ibunya berpesan, “Lihatlah semuanya sebagaimana dan seperti yang Ibu lihat. Kau tahu, kita memiliki bola mata yang sama, Nak.”

Suatu hari ia pernah ingin sekali berterima kasih kepada sebilah pisau dapur. Pisau dapur itulah yang bisa menyelamatkan ia dari segala jenis perasaan dan membuat hidupnya menjadi lebih tenang, begitu katanya. Ia ingin sekali keluar dari sebuah penjara bernama rasa. Sesungguhnya ia telah sedemikian lelah dengan berbagai macam perasaan yang melekat di dalam dirinya. Semua perasaan yang selalu saja mengganggu dan menghantuinya. Hidup baginya bukan perkara yang mudah, ibarat pertarungan abadi melawan segala jenis perasaan yang ada di dalam dirinya. Sumber dari segala perasaan sesungguhnya ada di dalam dirinya sendiri. Dan untuk itu, sebilah pisau dapur menjelma sosok penyelamat yang begitu menarik baginya. Mungkin itu adalah satu-satunya pilihan. Namun ia segera mengurungkan dan membuang jauh-jauh pikiran itu. Ia sadar, itu bukan jalan yang baik.

Ia khilaf. Sebetulnya ada yang lebih dekat dengan dirinya dari segala sesuatu. Dekat yang tanpa jarak sekalipun. Yang Maha Menyertai. Yang semestinya harus terus-menerus ia hadirkan untuk melawan semua jenis perasaan yang ada di dalam dirinya.

Ia pernah berkata kepada saya, bahwa ia begitu iri kepada orang-orang yang buta matanya, kepada orang-orang yang tuli telinganya, kepada orang-orang yang bisu mulutnya, dan juga kepada orang-orang gila. Betapa Tuhan sangat mencintai mereka. Tuhan tidak ingin orang buta itu melihat selain wajah-Nya. Tuhan tidak ingin orang tuli itu mendengar selain kalam-Nya. Tuhan tidak ingin orang bisu itu berbicara selain kepada-Nya. Tuhan tidak ingin orang gila itu mengingat selain-Nya. Dan sesungguhnya, mereka juga telah diselamatkan dari segala jenis perasaan.

Sebagai sahabatnya saya tahu betul, ia memiliki semangat hidup dan daya juang yang tinggi. Sekalipun orang-orang yang pernah hadir di dalam hidupnya, orang-orang yang pernah tertarik, orang-orang yang menaruh hati dan harapan padanya, banyak yang kemudian menjauhi dan melupakannya karena menganggap dirinya sebagai orang yang berpikiran tidak waras, sebagaimana pemikiran orang-orang. Namun bagi saya ia tetaplah sahabat baik saya. Saya akan selalu menyayangi dan memahami lewat lukisan-lukisannya. Saya yakin, setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dan Tuhan telah memberi keistimewaan kepada lelaki itu yang mungkin tak dimiliki kebanyakan orang.

Sesekali kau perlu mengunjungi rumahnya yang lumayan jauh dari kota. Perjalanan yang kau tempuh menuju rumahnya akan serasa begitu mendamaikan, seperti perjalanan sunyi mencari kitab suci. Sesampainya di sana kau akan menemukan begitu banyak jenis dan warna bunga yang bertebaran di halaman rumahnya. Sedang di dalam rumahnya terdapat banyak kuas, cat air, dan lukisan-lukisan bunga. Ya, lelaki itu suka sekali menanam dan melukis bunga-bunga. Tidak sedikit orang dari luar daerah yang membeli lukisan-lukisannya. Ia tak perlu banyak bicara. Ia hanya ingin melukis dan tumbuh bersama bunga-bunga itu. Bunga-bunga yang akan memenuhi dunia kecil di kepalanya dan menghapus segala jenis perasaan. Kau tahu, lelaki itu sudah kehilangan banyak hal dalam hidupnya. Kecuali satu yang membuatnya pantang menyerah dalam menghadapi setiap penggal kehidupan: setitik harapan. ~

Bulan November yang baik.
Mukhammad Fahmi.

Silahkan login di facebook dan berikan komentar Anda!