Parenting Sukma

Mengajarkan Kejujuran dengan Memupuk Kepercayaan si Kecil pada Orang Tua

September 27, 2018

author:

Mengajarkan Kejujuran dengan Memupuk Kepercayaan si Kecil pada Orang Tua

Sukma.co -Demi menjadikan si kecil menuruti kemauan orang dewasa, kadang kita mengiming-imingi sesuatu, tujuannya agar anak itu diam tidak merengek atau berhenti tantrum. Tapi itu hanya bujuk rayu dan bukan iming-iming sebenarnya. Tahukah bahwa sebenarnya itu cara yang menunjukkan ketidakjujuran. Mengajarkan kejujuran agar anak bisa memupuk kepercayaa pada orang tua adalah berusaha menghindari ucapan yang tidak sejalan dengan perilaku, meskipun untuk tujuan baik. Anak adalah peniru unggul. Waspada, role model orang dewasa akan membentuk cara anak berkembang secara pribadi.

Kebetulan saat itu si bungsu yang masih berumur kurang dari tiga tahun saya ajak ke kantor. Disela-sela saya menyelesaikan tugas, dia merengek meminta sesuatu. Rekan kerja saya kemudian berinisiatif untuk mengajaknya ke ruangan lain.

“Ayo ikut tante yuk, tante punya durian lho,” karena memang dia suka banget sama buah durian, iming-iming tersebut berhasil deh.

“Acik duyian, duyian,” teriaknya sambil berlari mengikuti teman saya.

Ilustrasi kekerasan seksual pada anak. Diambil dari merdeka.com.

Di situ saya merasa tidak nyaman, memang teman saya berhasil membujuknya, tetapi saya tau kalau sebenarnya dia hanya berbohong pada si bungsu. Yang dilakukan teman saya hanya untuk membuat dia tenang, dengan memberikan iming-iming yang sebenarnya tidak berniat diberikan.

Sebagai orang tua saya menyarankan untuk tidak melakukan hal tersebut pada anak-anak. Mungkin sekali, dua kali belum tertanam pada ingatan mereka, namun jika berkali-kali dan akhirnya tertanam pada kognitif mereka, maka dampaknya anak menjadi tidak percaya lagi pada orang tua. Dikasih harapan palsu itu sakit kan, maka jangan terlalu sering PHP (Pemberi Harapan Palsu) pada anak-anak juga yah.

Anak-anak di bawah usia lima tahun, masih pada taraf cara berfikir pra-operasional, di mana cara berpikirnya masih sederhana. Mereka merekam semuanya dari apa yang langsung mereka dapatkan dan hadapi

Menurut Piaget seorang tokoh psikologi perkembangan, pada anak-anak di bawah usia lima tahun, masih pada taraf cara berfikir pra-operasional, di mana cara berpikirnya masih sederhana. Mereka merekam semuanya dari apa yang langsung mereka dapatkan dan hadapi, mereka belum bisa berfikir secara logis. Bagaimana maksudnya?

Salah satunya seperti contoh yang saya paparkan di atas, selain itu misalnya kita menjanjikan anak yang mau mandi akan mendapatkan satu potong kue, maka yang ada dipikirannya setelah mandi akan mendapatkan satu potong kue, jika setelah mandi dia lupa, itu masalah lain. Tetapi sepotong kue tetap ada difikiran mereka. Mereka hanya berpikir sebab akibat. Bila mandi maka akan mendapat sepotong kue, mereka belum bisa berpikir kemungkinan kue tidak jadi didapatkan, atau berpikir “bagaimana seandainya.”

Nah imbalan-imbalan kecil dan janji-janji manis kita yang seringkali kita sepelekan, sebenarnya bisa membawa dampak yang tidak sepele. Menanamkan rasa kepercayaan itu sama halnya dengan mengajarkan dan mencontohkan pada mereka untuk menepati janji, tidak berbohong atau berkata jujur.

Beberapa hal yang perlu untuk diperhatikan antara lain,

Sebaiknya sebagai orang tua hindari PHP in anak ya, walaupun itu hal kecil. Dan jangan berharap “ah mereka juga sudah lupa.” Berilah iming-iming yang mudah didapatkan atau mudah dibeli, dengan kata lain yang mudah kita penuhi. Tidak harus dengan wujud benda yang anak sukai. Cukup dengan pujian saja anak-anak sudah cukup meleleh koq. Bukan hati ibunya saja lho yang meleleh dengan pujian (ups).

Apa keuntungan bagi orang tua yang selalu menepati janji-janjinya pada anak? Anak juga akan belajar untuk menepati janji. Mereka juga akan belajar untuk tidak berbohong, dan yang terpenting adalah mereka menjadi lebih percaya pada kita. Ketika mereka sudah percaya pada kita yakin deh mereka juga akan lebih mudah kita edukasi.

Hal-hal di atas sebenarnya tidak sulit untuk dipraktikkan, terbukti saya sudah terbiasa melakukannya pada anak-anak. Biarin saja kalau tante, om, kakek atau saudara kita meng-PHP anak kita, yang terpenting kita tidak pernah melakukannya. Biarkan anak kita tidak percaya pada mereka (jahat yaa), tetapi sangat penting dan harus, anak tetap punya kepercayaan pada kita sebagai orang tuanya. Namun alangkah lebih baik jika bisa menegur orang-orang di sekitar kita agar mengajarkan pola asuh yang sama, karena dengan begitu tidak ada ruang bagi anak untuk belajar berbohong dan tidak menepati janji.

Sedari kecil memupuk rasa kepercayaan anak pada kita sebagai orang tua, bisa membantu dalam pengasuhan mereka di usia remaja. Bila kita menyimak beberapa kasus remaja saat ini, mereka seringkali tidak nyaman bercerita dengan orang tuanya, karena salah satunya anak tidak mempercayai orang tuanya sendiri.

Mari terus memupuk rasa percaya anak pada diri kita sebagai orang tua mereka.

Saya yang masih terus belajar menjadi Ibu. Salam

Silahkan login di facebook dan berikan komentar Anda!