Kolumnis Sukma

Nestafa Kegagalan dan Mental Terjajah Kita

September 4, 2018

author:

Nestafa Kegagalan dan Mental Terjajah Kita

Sukma.co – Gagal itu kesuksesan yang tertunda. Seringkali kita mendengar dan menyatakan seperti itu agar kita tidak meratapi jerih payah kita untuk sebuah tujuan tertentu. Namun, saya sendiri akan membuat keyakinan baru jika kegagalan itu hanyalah mitos, yakni suatu keyakinan yang dibenarkan secara umum tetapi tidak benar atau ada, namun demikian sudah banyak orang membenarkannya. Kegagalan bahkan seringkali menjadi momok sehingga ada orang yang benar-benar kapok menjalaninya.

Ketika seseorang merasa gagal, jelas dia akan berhenti melakukan sesuatu. Mereka pada akhirnya tidak berjuang sekuat tenaga meraih sukses. Orang yang mempercayai kegagalan termasuk orang yang kalah, menyerah dan kurang bergiat untuk selalu mencari perubahan-perubahan menuju pencapaian sukses. Kegagalan memang secara definitif diterima sebagai kosa-kata bahasa untuk mengungkapkan tiadanya keberhasilan dalam mencapai sesuatu.

Ilustrasi gambar dari hipwee.com

Saya menduga-duga, kegagalan terkonstruksi dari mental orang-orang terjajah yang sangat menguntungkan karena jika kita memercayai kegagalan, maka selalu ada jalan untuk menghentikan perjuangan bahkan mencapai kemajuan. Jika negara-negara terjajah sangat meyakini kegagalan maka usaha untuk membuat orang-orang yang terjajah segera mengakui kegagalan akan menguntungkan karena orang-orang yang ingin maju, ingin sukses, pada akhirnya tidak lagi mau terus melompati dan terus menuju pencapaian cita-cita menjadi negara maju.

Di sinilah yang saya sebut sebagai mental terjajah. Ketika kegagalan adalah proses perhentian dari usaha menuju sukses, maka sebagian dari kita akan berhenti dan tidak melakukan terus usaha agar kita berproses mencapai kesuksesan karena kita memercayai bahwa halangan dan masalah yang ada tidak bisa diselesaikan. Lantas kita menerima halangan itu dan mengakui sebagai sebuah kegagalan. Meyakini dan mengunci mentah-mentah sebuah kata kegagalan akan meningkatkan toleransi menerima rintangan, kekalahan, atau kerugian hanya menghentikan kita untuk menuju sebuah masa depan yang kita anggap baik. Penerjemahan kegagalan yang seperti ini yang disebut mental terjajah, berhenti tidak melakukan sesuatu karena kita menganggap telah gagal.

Melampaui Mitos Kegagalan

Jika seperti itu, sebenarnya kita telah mengubah orientasi cita-cita kita karena merasa gagal. Oleh karena itu, mari melampaui sebuah kegagalan dan tidak mengatakan lagi kegagalan. Kegagalan itu tidak ada. Yang ada adalah pilihan baru setelah kita belum bisa mencapai cara yang kita ambil untuk mencapai kesuksesan. Jangan menerima kegagalan sebagai konsep mental terjajah.

Hilangkan kegagalan menjadi konsep optimis dan terus berubah. Jika jalan satu tidak berhasil, maka kita perlu mengoreksi dan memperbaikinya. Syukurilah bahwa kita ditunjukkan sebuah cara yang ternyata salah, maka kita perlu mengoreksinya agar menjadi lebih baik. Cara yang tidak berhasil itu bukan kegagalan. Hal itu bagian dari proses. Jika cara satu tidak bisa mencapai kesuksesan maka ada cara lain yang barangkali lebih sempurna untuk mencapainya. Jika anda ikut lomba dan tidak menang untuk prestasi anda, boleh jadi jalan pencapaian prestasi anda memang bukan dengan melalui lomba, tetapi jalan lain yang lebih tepat untuk mengantarkan kesuksesan. Atau lomba kedua, ketiga dan selanjutnya yang akan menjadikan anda menang.

Ketika kegagalan adalah proses perhentian dari usaha menuju sukses, maka sebagian dari kita akan berhenti dan tidak melakukan terus usaha agar kita berproses mencapai kesuksesan karena kita memercayai bahwa halangan dan masalah yang ada tidak bisa diselesaikan.

Suatu contoh, mengapa tim sepak bola yang jarang sekali memenangi laga, tetap saja mereka ikut kompetisi. Mereka terus berusaha memperbaiki permainan, mendatangkan pelatih, bongkar-pasang pemain begitu seterusnya. Hampir tidak ada kata gagal dan kegagalan karena akan mempengaruhi mentalitas juang.

Begitu juga dalam berbisnis. Jika ada orang yang tertipu karena ingin berwirausaha, bukan berarti gagal, tetapi seseorang harus belajar cara memilih orang yang tepat untuk dipercaiyai. Kalau itu dianggap gagal, maka pikiran seseorang akan membentuk mental gagal yang mengganggu optimisme dan semangat juang untuk sukses berbisnis. Pengalaman itu perlu disyukuri bahwa seseorang ternyata butuh teliti memercayai orang. Seorang pebisnis bukan menghentikannya tetapi berusaha terus mencari orang yang lebih tepat dipercaya. Seorang pebisnis ibarah seorang yang selalu mengaruhi perubahan cara untuk semakin baik dalam mencapai sukses.

Menerima kegagalan hanya membuat mental berpikir menjadi stresfull dan mengganggu kebahagiaan seseorang. Orang yang tidak bahagia terus menerus akan mempengaruhi nuraninya untuk memperbaiki diri. Semua ada baiknya diletakkan dalam proses belajar mengalami. Jika ini selalu diproses dalam pikiran setiap orang maka pengalaman tersebut akan mempertajam naluri kita mencapai sukses.

Penulis: Mohammad Mahpur

Editor  : Redaksi

Silahkan login di facebook dan berikan komentar Anda!
Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *